Main Article Content
Abstract
This paper explores how education functions at the margins for migrant communities in India and Turkey, with a particular focus on its potential for transformative learning. The objective is to analyze how systemic barriers such as language, documentation, economic precarity, caste, and gender shape migrants’ access to education, and how alternative practices may reframe learning as a space of empowerment. While much existing scholarship documents exclusion, the research gap lies in examining education not simply as access but as a transformative process that can cultivate resilience, agency, and solidarity. Methodologically, the study employs a comparative theoretical approach, drawing on secondary literature, policy documents, and critical frameworks including Freire’s critical pedagogy, Mezirow’s transformative learning, and intersectional postcolonial theory. The findings show that state-led education in both contexts tends to reproduce inequalities by positioning migrants as deficient, while grassroots and community-driven initiatives demonstrate possibilities for multilingual, flexible, and culturally responsive practices. The paper argues that transformative learning, when rooted in critical reflection and dignity, offers a pathway for migrant learners to negotiate belonging and resist exclusion. By placing India and Turkey in dialogue, the study underscores the urgency of reimagining education as a site of justice in contexts of displacement and mobility.
[Artikel ini mengkaji bagaimana pendidikan berfungsi di wilayah pinggiran bagi komunitas migran di India dan Turki, dengan fokus khusus pada potensinya sebagai sarana pembelajaran transformatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana hambatan sistemik seperti bahasa, dokumentasi, kerentanan ekonomi, kasta, dan gender membentuk akses migran terhadap pendidikan, serta bagaimana praktik-praktik alternatif dapat membingkai ulang pembelajaran sebagai ruang pemberdayaan. Meskipun banyak kajian sebelumnya mendokumentasikan eksklusi, celah penelitian terletak pada pengkajian pendidikan bukan semata-mata sebagai persoalan akses, melainkan sebagai proses transformatif yang mampu menumbuhkan ketahanan, agensi, dan solidaritas. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis komparatif dengan merujuk pada literatur sekunder, dokumen kebijakan, serta kerangka kritis yang meliputi pedagogi kritis Freire, pembelajaran transformatif Mezirow, dan teori poskolonial interseksional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan yang diprakarsai negara di kedua konteks cenderung mereproduksi ketimpangan dengan memposisikan migran sebagai pihak yang mengalami kekurangan, sementara inisiatif akar rumput dan berbasis komunitas memperlihatkan kemungkinan praktik pendidikan yang multibahasa, fleksibel, dan responsif secara kultural. Artikel ini berargumen bahwa pembelajaran transformatif, ketika berakar pada refleksi kritis dan martabat manusia, menawarkan jalan bagi pembelajar migran untuk merundingkan rasa memiliki dan melawan eksklusi. Dengan mendialogkan konteks India dan Turki, studi ini menegaskan urgensi untuk membayangkan kembali pendidikan sebagai ruang keadilan dalam situasi perpindahan dan mobilitas.]
Keywords
Article Details
Copyright (c) 2025 REACT: Research in Education and Critical Transformation

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.